Kereta api Gunungjati
![]() ![]() | |||||||||
![]() Perjalanan Perdana Kereta api Gunungjati rute Jakarta-Semarang. | |||||||||
Informasi umum | |||||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Jenis layanan | Kereta api antarkota | ||||||||
Status | Beroperasi | ||||||||
Daerah operasi | Daerah Operasi III Cirebon | ||||||||
Mulai beroperasi | 1 Februari 1973 | ||||||||
Operator saat ini | PT Kereta Api Indonesia | ||||||||
Lintas pelayanan | |||||||||
Stasiun awal | |||||||||
Stasiun akhir | Gambir | ||||||||
Jarak tempuh | 440 km | ||||||||
Waktu tempuh rerata |
| ||||||||
Frekuensi perjalanan | Dua kali keberangkatan tiap hari | ||||||||
Jenis rel | Rel berat | ||||||||
Pelayanan penumpang | |||||||||
Kelas | Eksekutif dan ekonomi | ||||||||
Pengaturan tempat duduk |
| ||||||||
Fasilitas restorasi | Ada | ||||||||
Fasilitas observasi | Kaca panorama dupleks, dengan tirai, lapisan laminasi isolator panas | ||||||||
Fasilitas bagasi | Ada | ||||||||
Fasilitas lain | Toilet, alat pemadam api ringan, rem darurat, penyejuk udara, peredam suara. | ||||||||
Teknis sarana dan prasarana | |||||||||
Lebar sepur | 1.067 mm | ||||||||
Kecepatan operasional | 80 s.d 120 km/jam | ||||||||
Pemilik jalur | Ditjen KA, Kemenhub RI | ||||||||
Nomor pada jadwal | 117-120 | ||||||||
|
Kereta api Gunungjati merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk melayani relasi Semarang Tawang–Cirebon–Gambir melalui lintas utara Jawa.
Asal-usul penamaan
[sunting | sunting sumber]Nama kereta api ini berasal dari nama seorang tokoh Walisongo asal Cirebon, yakni Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati berjasa dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Kabupaten dan Kota Cirebon pada masanya, ia membangun sebuah pesantren yang terletak di Cirebon.
Jasanya diabadikan juga untuk nama sebuah kecamatan, yakni Gunungjati, Cirebon.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Jakarta–Cirebon (1973–1992)
[sunting | sunting sumber]Kereta api Gunungjati mulai beroperasi pada 1 Februari 1973, dan ditarik lokomotif diesel hidraulik BB301. Kereta api ini tergolong sebagai kereta ekspres yang dioperasikan untuk melanjutkan tugas dari KA Patas Cirebon–Jatinegara dan diresmikan bersama oleh Menteri Perhubungan Frans Seda, Wali Kota Cirebon Tatang Suwardi, dan Kepala Bappenas Widjojo Nitisastro, dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-602 Cirebon. Saat itu, kereta api ini beroperasi sebanyak dua kali pergi pulang sehari dan menempuh waktu selama 2,5 jam.[1]
Dalam pidatonya saat acara peresmian KA Gunungjati, Nitisastro sempat menyinggung masalah distribusi pupuk. Hal ini menanggapi persoalan yang berkaitan dengan ketersediaan barang: barangnya ada, tetapi alat transportasinya tidak siap, atau sebaliknya: kendaraan banyak, tetapi barangnya tak ada satu pun yang diangkut. Masalah ini, menurutnya, harus diatasi dengan sinergi antarbisnis di sektor perdagangan dan transportasi.[2]
Pada 10 Mei 1984, PJKA mengumumkan bahwa dalam Gapeka 1984 yang dirilis pada hari itu, pola pelayanan KA Gunungjati diubah, dengan meluncurkan KA Ekspres Tegal–Jakarta Kota pp, Cirebon–Jakarta Kota pp (via Pasar Senen), dan menghadirkan KRD Gunung Jati berbasis MBW 302, dengan rute Cirebon–Jakarta Kota pp (via Gambir), dengan waktu tempuh rata-rata 3,5 jam.[3]
Beberapa tahun berikutnya, PJKA pun akhirnya merombak seluruh pelayanan kereta api Gunung Jati menjadi kelas 3 (ekonomi) dan berjalan melalui Stasiun Pasar Senen, sehubungan dengan mulai beroperasinya kereta api Tegal Arum. Bahkan agar KA ini bisa bertahan, kereta api ini harus dijalankan bertukar dukungan sarana. Sebaliknya, kereta api Cirebon Ekspres justru naik kasta, karena pada 20 November 1989, Cirebon Ekspres sudah memiliki delapan rangkaian yang dua di antaranya dilengkapi penyejuk udara.[4] Pada 1 Juni 1992, sehubungan dengan switch-over jalur layang Jakarta Kota–Manggarai, kereta api Gunungjati dihapus sehubungan dengan dibukanya KA Cirebon Ekspres yang berangkat dari Cirebon pukul 12.20, sehingga menyisakan KA Tegal Arum yang beroperasi.[5]
Jakarta–Semarang (2025–sekarang)
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2025, PT KAI mengoperasikan kembali kereta api ini setelah 32 tahun mati suri (seperti pengoperasian Kereta api Jayabaya) dengan memperpanjang rutenya sampai Semarang Tawang karena permintaan pasar penumpang kereta api di lintas utara Jawa. Peluncuran kereta api Gunungjati dilakukan pada 1 Februari 2025 di Stasiun Cirebon Peresmian ini dilakukan oleh Direktur Perencanaan Strategis dan Pengelolaan Sarana KAI, John Robertho, bersama PJ Walikota Cirebon, Agus Mulyadi dan Direksi KAI Daerah Operasi III Cirebon. Pada perjalanan perdana, rangkaian kereta api Gunungjati terdiri dari empat kereta eksekutif, empat kereta kelas ekonomi, satu kereta makan, dan satu kereta pembangkit. Kereta api Gunungjati diberangkatkan dari Cirebon ke Gambir pada pagi hari, arah Semarang dan sebaliknya pada pagi/sore hari dan sedangkan arah Cirebon sebaliknya berangkat pada malam hari.
Stasiun pemberhentian
[sunting | sunting sumber]Berikut merupakan stasiun-stasiun pemberhentian kereta api Gunungjati per 1 Februari 2025.[6]
Provinsi | Kabupaten/Kota | Nama | Keterangan | Status |
---|---|---|---|---|
DKI Jakarta | Gambir | ![]() Stasiun ujung, terintegrasi dengan Koridor 2 Transjakarta. |
★ | |
Jatinegara | ![]() ![]() ![]() ![]() Terintegrasi dengan Commuter Line Cikarang dan Koridor 5, 10, dan 11 BRT Transjakarta. |
▲ | ||
Jawa Barat | Kota Bekasi | Bekasi | ![]() Terintegrasi dengan Commuter Line Cikarang. |
■ |
Karawang | Cikampek | LW LJ
Terintegrasi dengan Commuter Line Jatiluhur dan Walahar. Hanya KA 117 dan 120 yang berhenti di Cikampek. |
■ | |
Subang | Pegaden Baru | Hanya perjalanan kereta api menuju ke arah timur. | ▼ | |
Indramayu | Haurgeulis | – | ■ | |
Jatibarang | ■ | |||
Cirebon | Arjawinangun | Hanya KA 117 dan 120 yang berhenti di Arjawinangun. | ■ | |
Babakan | – | ■ | ||
Kota Cirebon | Cirebon | Terletak di Jalur Lintas Utara Jawa.
Stasiun terminus untuk KA 120 dan 117. |
■ | |
Jawa Tengah | Brebes | Brebes | KG
Terletak di Jalur Lintas Utara Jawa. |
■ |
Kota Tegal | Tegal | KG JS KD
Terletak di Lintas Utara Jawa. |
■ | |
Pemalang | Pemalang | ■ | ||
Kota Pekalongan | Pekalongan | ■ | ||
Kota Semarang | Semarang Tawang | 2 3A 3B 4 7 ![]() Stasiun ujung untuk KA 118 dan 119. Terintegrasi dengan Kedung Sepur, Blora Jaya, dan bus Trans Semarang serta Trans Jateng. |
★ |
Legenda
★ | Stasiun ujung (terminus). |
■ | Berhenti untuk semua arah. |
▼ | Berhenti hanya mengarah ke timur (Semarang / Cirebon). |
▲ | Berhenti hanya mengarah ke barat (Jakarta). |
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ^ Effendi, H. (6 Februari 1973). "Cirebon Express 2 1/2 Jam Hadiah HUT 602 Cirebon". Berita Buana.
- ^ "Perlu Keserasian antara Perhubungan dan Perdagangan". Kompas. 2 Februari 1973.
- ^ "PJKA Merencanakan Melakukan Perubahan Perjalanan Kereta Api". Berita Yudha. 10 Mei 1984.
- ^ "KA Cirebon Ekspres Dilengkapi AC". Harian Neraca. 18 November 1989.
- ^ "KA Cirebon Ekspres Tambah Jadwal Pemberangkatan". Berita Yudha. 6 Mei 1992.
- ^ Grafik Perjalanan Kereta Api pada Jaringan Jalur Kereta Api Nasional di Jawa Tahun 2023 (PDF). Bandung: PT Kereta Api Indonesia (Persero). 30 Desember 2024. hlm. 311. Diakses tanggal 1 Februari 2025 – via Direktorat Jenderal Perkeretaapian.